Berdirinya Kerajaan Kadiri tidak bisa dilepaskan dari kebijakan Airlangga yang membagi wilayah Kahuripan menjadi 2 bagian. Dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa sebelah timur diberi nama Janggala yang diwariskan kepada Lembu Amiluhung dan bagian barat diberi nama Kadiri yang diwariskan kepada Lembu Amisena. Lembu Amisena menjadi raja pertama Kadiri sejak tahun 1042 M namun tidak diketahui secara pasti kapan masa pemerintahan Lembu Amisena berakhir. Baru pada masa pemerintahan Sri Kamesywara Triwikramawatara Aniwariwirya Andindhita Digjaya Uttunggadewa (1116 M - 1135 M) sejarah Kerajaan Kadiri mulai terlacak melalui prasasti-prasasti yang ada pada Kerajaan Kadiri. Pada masa pemerintahan Sri Kamesywara kebijakan yang diterapkan olehnya mampu menyatukan dua wilayah yang ada di wilayah Kadiri yaitu Kadiri dan Panjalu. Kemajuan juga terjadi di bidang keamanan dan pertahanan negara sehingga Kadiri dapat terbebas dari praktek kudeta dan serangan dari luar.
Sri Kamesywara turun takhta pada 1135 M dan digantikan oleh Jayabhaya. Jayabhaya membuat kerajaan Kadiri semakin kuat dengan kemajuan dibidang kesusastraan,sejarah dan bidang pertahanan. Namun pemerintahan Jayabhaya dianggap kebusukan politik karena ia menyerang kerajaan saudaranya sendiri yaitu Kerajaan Janggala demi kepentingan kerajaannya sendiri. Kerajaan Kadiri mengalami kehancuran pada masa pemerintahan Kertajaya. Hal ini disebabkan oleh sikap angkuh dan sombong yang dimiliki oleh Kertajaya sehingga kerajaan diserang oleh Ken Arok dari Tumapel (Singasari). Berakhirnya masa pemerintahan Kertajaya menandai bahwa Kadiri kemudian menjadi wilayah bawahan Tumapel.
Kamis, 16 Maret 2017
Bab 4 : Kerajaan Kadiri
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar